Pesantren dan Kebangsaan

  • Bisri Effendy Budayawan Nahdatul Ulama
Keywords: pesantren, kebangsaan, subkultur, community development, komite, hijaz, dan Islam nusantara

Abstract

Sulit memang membahas soal pesantren dikaitkan dengan diskursus kebangsaan di
negeri ini, karena hampir semua bahasan, analisis, dan laporan mengenai Kongres
pertama Boedi Oetomo 1908 dan Kongres Pemoeda ke-2 tahun 1928, dua
peristiwa penting sebagai tonggak gerakan kebangsaan, tidak menyebut secara
eksplisit pesantren di dalamnya. Jika pada Kongres Pemoeda ke-2, Jong Java, Jong
Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Roekoen, Jong Batak, Jong
Theosofen Bond, Ambonsche Strudeerenden, Minahasa Strudeerenden, Studieclub
Indonesia, Boedi Oetomo, dan Muhammadiyah disebut sebagai peserta resmi,
tetapi pesantren, dan NU sebagai lembaga/organisasi resmi sama sekali tidak
disebut dan tidak terdaftar, kesertaan pemuda Wahab Hasbullah, Hasyim Asy‘ari,
dan Wahid Hasyim dalam perhelatan tersebut diakui sebagai perorangan. Entah
karena perintah Belanda atau panitia Kongres yang abai terhadap pesantren,
kenyataan itu mengundang pertanyaan besar: mengapa? Tulisan ini tak hendak
bermaksud menjawab pertanyaan itu, juga tak ingin memberikan sanggahan
terhadap ―kekhilafan‖ tersebut dengan seluruh argumen historisnya. Paparan yang
tidak terlalu panjang ini hanya akan menganalisis fakta-fakta yang berserak dan
terdokumentasi tertulis dari pilihan pesantren menjadi subkultur, kiprahnya dalam
community development, hingga pembentukan komite hijaz dan deklarasi Islam
nusantara. Dengan analisis itu diharapkan menjadi lebih terang peran pesantren
yang sebenarnya jauh lebih tua dari kelahiran Boedi Oetomo maupun Sumpah
Pemoeda dalam gerak kebangsaan di negeri ini.

 

References

Abdullah, Taufik. 1987. ―=Pesantren Dalam Perspektif Sejarah.‘‖ InIslam Dan Masyarakat, PantulahSejarah Indonesia. Jakarta:LP3ES.

Achadiat, K. Mihardja. 1998. Polemik Kebudayaan. Jakarta: BalaiPustaka.

Adien. 2008. Menggerakkan Nahdlatut Tujar. Jakarta: PMPI.

Dhofier, Zamahsyari. 1982. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES.

Dirdjasanyoto, Pradjarta. 1999.Memelihara Umat: KiaiPesantren-Kiai Langgar.

Yogyakarta: LKiS.

Horikoshi, Hiroko. 1987. Kiai Dan Perubahan Sosial. Jakarta: P3M.

Madjid, Nurcholish. 1971. Profil Pesantren. Jakarta: LP3ES.

Mansurnoor. 1990. Islam in an Indonesian World: Ulama of Madura. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Steenbrink, Karl. 1974. Pesantren,Madrasah, Sekolah. Jakarta:LP3ES.

Subair, Muh. 2019. ―IDEOLOGI KEBANGSAAN DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PESANTR¬EN PKP MANADO.‖ Al-Qalam.

https://doi.org/10.31969/alq.v25i1.696.

Tim Peneliti. 1978. Kepemimpinan Di Madura. Jakarta: LP3ES.

———. 1989. ―Pesantren Dan Potensi Pengembangan Masyarakat.‖Jakarta.

Wahid, Abdurrahman. 1985.―=Kebangkitan Kembali Peradaban Islam: Adakah Ia.‘‖ In

KH. Wahid Hasyim, Mengapa Memilih NU, Pendidikan DanPolitik. Jakarta: Inti Sarana

Aksara.

Wahid, Abdurrahman. 1983.―=Republik Bumi Di Surga.‘‖

Prisma, 1983. ———. 2001. ―=Pesantren Profil Sebuah Subkultur.‘‖ In Pergulatan Negara, Agama, DanKebudayaan. Jakarta: Desantara

Press.

———. 2008. ―=Kesejahteraan Bermula Dari Kebangkitan Ekonomi.‘‖ In Menggerakkan Nahdlatut Tujar. Jakarta: PMPI.

Published
2019-11-05
Section
Articles